SEBUAH KEBERANIAN
Siang ini Gita sedang
disibukkan dengan game-nya. Sudah menjadi kebiasaan Gita menghabiskan waktu
siangnya di kamar mungilnya itu selama berjam-jam. Riuh sekelompok ibu rumah
tangga yang main di teras rumahnya tidak dihiraukan lagi. Tapi tak jarang juga
kepenatan menghampirinya.
Satu
jam sudah waktunya ia habiskan di depan laptop. Kini ia sudah benar-benar
merasa penat. Lalu ia menghampiri ibunya yang tengah asyik ngobrol dengan
tetangganya di teras rumah. Tiduran di pangkuan ibunya dan sesekali ikut
mengeluarkan suara dan bercanda.
Tiba-tiba
seorang tetangga lewat depan rumah Gita dan tampak membawa kresek hitam besar.
Nampaknya berisi sesuatu dengan jumlah yang tidak sedikit.
“Mau
ke mana Budhe?” sapa Ibu Gita dan teman-temannya.
“Ini
mau buang sampah ke kali.” Jawabnya.
“Oh
ya. Nanti mampir yaa..” Balas Ibu Gita.
Sontak Gita
terheran-heran dan dalam hatinya ia bertanya-tanya : “Kenapa ibu-ibu buang
sampahnya masih di kali yaa? Padahal kan sudah banyak tempat sampah umum di kampung
ini. Ibu juga kalau buang sampah masih dibakar di pekarangan belakang rumah.”
Gita
tahu dan mengerti betul bahwa dari pelajaran yang ia dapat di sekolah dan dari
pengalaman yang sudah-sudah, membuang sampah di sungai dapat menimbulkan banyak
dampak negatif. Gita memang tak pernah perduli dengan lingkungan di luar
kehidupan pribadi dan keluarganya. Tapi entah apa yang membuat Gita bangkit
kali ini. Atau mungkin ia mulai sadar dan tergerak hatinya untuk mengubah kebisaaan
buruk orang-orang kampungnya itu.
“Bu,
kok buang sampahnya masih pada di kali?” Tanya Gita kepada Ibunya.
“Saya
juga buang sampahnya masih di kali kok, Mbak Gita.” Saut salah seorang teman
Ibu Gita.
“Ibu
juga. Kenapa sampahnya masih dibakar? Nggak dibuang ke bak sampah depan itu?”
Tanya Gita sambil menunjuk tempat sampah yang ada di depan rumahnya.
“Sampahnya
ya bakal numpuk, Nduk kalau setiap hari dibuang ke situ tapi nggak diangkut.”
Jawab Ibu Gita. Dan lebih mantapnya lagi teman-teman Ibunya membenarkan jawaban
Ibu Gita.
Gita
semakin sadar. Ternyata selama ini ibu-ibu di kampungnya masih membuang sampah
di sungai karena tidak ada angkutan sampah. Sudah satu bulan lebih program
pembuangan sampah di kampungnya dicanangkan. Tetapi belum berjalan sebagai mana
mestinya, karena perangkat desa tempat tinggal Gita hanya memberikan
tempat-tempat sampah di kampung Gita dan di kampung lain tanpa mengusahakan
prosedur pengelolaan sampah termasuk pengangkutan sampah. Mulai dari sampah
daun, plastik, maupun kaca.
Keesokan
harinya, di sekolah Gita sengaja mendatangi guru IPA nya untuk konsultasi
mengenai masalah pembuangan sampah di kampungnya. Dengan senang hati guru IPA
tersebut menerima kedatangan Gita dan membantu memecahkan masalah yamg menjadi
beban pikiran Gita. Namun, guru IPA nya tidak bisa berbuat banyak. Beliau
menyarankan agara Gita bersama teman-teman remaja di kampugnya untuk berani
menyuarakan masalah ini dengan orang-orang yang berwajib di desanya. Karena
inilah tugas Gita dan teman-temannya.
Sepulang
sekolah ia lupakan sejenak kebiasaannya nge-game di kamar. Ia menyempatkan diri
pergi ke rumah teman-teman karang taruna di kampungnya untuk mengajak mereka
kumpul. Di perkumpulan itulah Gita menceritakn kebisaaan buruk ibu-ibu di
kampung mereka, termasuk Ibu Gita sendiri dan ibu mereka.
Sore
ini juga ketua karang taruna kampung Gita menerima dan menyetujui usul Gita
untuk membuat proposal pengadaan angkutan sampah yang besok akan ditujukan
kepada kepala desanya. Kebetulan Gita menjabat sebagai sekretaris karang
taruna, sehingga ia dipercaya untuk merancang penulisan proposal.
Kini
waktu senggang Gita disibukkan dengan penulisan proposal. Dan akhrinya proposal
selesai dalam waktu dua hari.
Pagi
ini Gita dan ketua karang taruna bersiap-siap untuk pergi ke kantor kepala desa
untuk menyodorkan proposal. Beruntungnya mereka disambut dengan baik dan Bapak
Kepala Desa bersedia untuk mempelajari proposal yang mereka buat.
Hari
demi hari berlangsung. Angkutan sampah pun belum juga turun. Terpaksa
pemuda-pemudi karang taruna belum bisa menghentikan kebisaaan buruk masyarakat.
Tempat-tempat sampah di kampung masih terlihat baru dan hanya terdapat genangan
air hujan dan telur nyamuk di atas tutup tong sampah.
Gita
dan teman-teman karang taruna hampir putus asa menunggu jawaban dari proposal
yang sudah mereka sodorkan seminggu yang lalu. Mereka belum tahu harus berbuat
apa lagi jika proposal mereka diabaikan oleh orang tertinggi di desanya.
Suatu
hari, Gita dan ketua karang taruna mendapat undangan agar segera dating ke
kantor kepala desa untuk menghadap Bapak Kepala Desa. Dengan hati yang berhara
esok harinya mereka berdua mendatangi kantor kepala desa.
Sebuah
kabar yang menggembirakan. Bapak Kepala Desa memenuhi proposal yang mereka
buat. Angkutan sampah akan beroperasi mulai sore hari ini juga dan tidak hanya
di kampung Gita, tetapi di seluruh kampung-kampung yang ada di desa mereka.
Mereka
saling berterima kasih. Bapak Kepala Desa berterima kasih karena mereka
pemuda-pemudi yang berani mengingatkan kelalaian orang yang jauh lebih dewasa,
terlebih kepada beliau sebagai kepala desa.
Kini,
warga kampung tidak pernah lagi membuang sampah di sembarang tempat, baik di
sungai maupun di pekarangan rumah. Gita percaya angkutan sampah akan mengelola
transportasi sampah dengan baik. Selain rajin memilah sampah, warga pun kini
rajin membuat aksesoris rumah dari sampah-sampah yang masih dapat didaur ulang,
seperti plastik kemasan makanan, sedotan, dll. Bahkan ada warga yang
berwirausaha aksesoris dan pernaik-pernik dari sampah daur ulang. “Terbukti,
msyarakat kini menjadi lebih hidup sehat dan produktif.” Pikir Gita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar