Pages

Rabu, 20 Agustus 2014

Cerpen Revolusi



SEBUAH KEBERANIAN

Siang ini Gita sedang disibukkan dengan game-nya. Sudah menjadi kebiasaan Gita menghabiskan waktu siangnya di kamar mungilnya itu selama berjam-jam. Riuh sekelompok ibu rumah tangga yang main di teras rumahnya tidak dihiraukan lagi. Tapi tak jarang juga kepenatan menghampirinya.
            Satu jam sudah waktunya ia habiskan di depan laptop. Kini ia sudah benar-benar merasa penat. Lalu ia menghampiri ibunya yang tengah asyik ngobrol dengan tetangganya di teras rumah. Tiduran di pangkuan ibunya dan sesekali ikut mengeluarkan suara dan bercanda.
            Tiba-tiba seorang tetangga lewat depan rumah Gita dan tampak membawa kresek hitam besar. Nampaknya berisi sesuatu dengan jumlah yang tidak sedikit.
            “Mau ke mana Budhe?” sapa Ibu Gita dan teman-temannya.
            “Ini mau buang sampah ke kali.” Jawabnya.
            “Oh ya. Nanti mampir yaa..” Balas Ibu Gita.
Sontak Gita terheran-heran dan dalam hatinya ia bertanya-tanya : “Kenapa ibu-ibu buang sampahnya masih di kali yaa? Padahal kan sudah banyak tempat sampah umum di kampung ini. Ibu juga kalau buang sampah masih dibakar di pekarangan belakang rumah.”
            Gita tahu dan mengerti betul bahwa dari pelajaran yang ia dapat di sekolah dan dari pengalaman yang sudah-sudah, membuang sampah di sungai dapat menimbulkan banyak dampak negatif. Gita memang tak pernah perduli dengan lingkungan di luar kehidupan pribadi dan keluarganya. Tapi entah apa yang membuat Gita bangkit kali ini. Atau mungkin ia mulai sadar dan tergerak hatinya untuk mengubah kebisaaan buruk orang-orang kampungnya itu.
            “Bu, kok buang sampahnya masih pada di kali?” Tanya Gita kepada Ibunya.
            “Saya juga buang sampahnya masih di kali kok, Mbak Gita.” Saut salah seorang teman Ibu Gita.
            “Ibu juga. Kenapa sampahnya masih dibakar? Nggak dibuang ke bak sampah depan itu?” Tanya Gita sambil menunjuk tempat sampah yang ada di depan rumahnya.
            “Sampahnya ya bakal numpuk, Nduk kalau setiap hari dibuang ke situ tapi nggak diangkut.” Jawab Ibu Gita. Dan lebih mantapnya lagi teman-teman Ibunya membenarkan jawaban Ibu Gita.
            Gita semakin sadar. Ternyata selama ini ibu-ibu di kampungnya masih membuang sampah di sungai karena tidak ada angkutan sampah. Sudah satu bulan lebih program pembuangan sampah di kampungnya dicanangkan. Tetapi belum berjalan sebagai mana mestinya, karena perangkat desa tempat tinggal Gita hanya memberikan tempat-tempat sampah di kampung Gita dan di kampung lain tanpa mengusahakan prosedur pengelolaan sampah termasuk pengangkutan sampah. Mulai dari sampah daun, plastik, maupun kaca.
            Keesokan harinya, di sekolah Gita sengaja mendatangi guru IPA nya untuk konsultasi mengenai masalah pembuangan sampah di kampungnya. Dengan senang hati guru IPA tersebut menerima kedatangan Gita dan membantu memecahkan masalah yamg menjadi beban pikiran Gita. Namun, guru IPA nya tidak bisa berbuat banyak. Beliau menyarankan agara Gita bersama teman-teman remaja di kampugnya untuk berani menyuarakan masalah ini dengan orang-orang yang berwajib di desanya. Karena inilah tugas Gita dan teman-temannya.
            Sepulang sekolah ia lupakan sejenak kebiasaannya nge-game di kamar. Ia menyempatkan diri pergi ke rumah teman-teman karang taruna di kampungnya untuk mengajak mereka kumpul. Di perkumpulan itulah Gita menceritakn kebisaaan buruk ibu-ibu di kampung mereka, termasuk Ibu Gita sendiri dan ibu mereka.
            Sore ini juga ketua karang taruna kampung Gita menerima dan menyetujui usul Gita untuk membuat proposal pengadaan angkutan sampah yang besok akan ditujukan kepada kepala desanya. Kebetulan Gita menjabat sebagai sekretaris karang taruna, sehingga ia dipercaya untuk merancang penulisan proposal.
            Kini waktu senggang Gita disibukkan dengan penulisan proposal. Dan akhrinya proposal selesai dalam waktu dua hari.
            Pagi ini Gita dan ketua karang taruna bersiap-siap untuk pergi ke kantor kepala desa untuk menyodorkan proposal. Beruntungnya mereka disambut dengan baik dan Bapak Kepala Desa bersedia untuk mempelajari proposal yang mereka buat.
            Hari demi hari berlangsung. Angkutan sampah pun belum juga turun. Terpaksa pemuda-pemudi karang taruna belum bisa menghentikan kebisaaan buruk masyarakat. Tempat-tempat sampah di kampung masih terlihat baru dan hanya terdapat genangan air hujan dan telur nyamuk di atas tutup tong sampah.
            Gita dan teman-teman karang taruna hampir putus asa menunggu jawaban dari proposal yang sudah mereka sodorkan seminggu yang lalu. Mereka belum tahu harus berbuat apa lagi jika proposal mereka diabaikan oleh orang tertinggi di desanya.
            Suatu hari, Gita dan ketua karang taruna mendapat undangan agar segera dating ke kantor kepala desa untuk menghadap Bapak Kepala Desa. Dengan hati yang berhara esok harinya mereka berdua mendatangi kantor kepala desa.
            Sebuah kabar yang menggembirakan. Bapak Kepala Desa memenuhi proposal yang mereka buat. Angkutan sampah akan beroperasi mulai sore hari ini juga dan tidak hanya di kampung Gita, tetapi di seluruh kampung-kampung yang ada di desa mereka.
            Mereka saling berterima kasih. Bapak Kepala Desa berterima kasih karena mereka pemuda-pemudi yang berani mengingatkan kelalaian orang yang jauh lebih dewasa, terlebih kepada beliau sebagai kepala desa.
            Kini, warga kampung tidak pernah lagi membuang sampah di sembarang tempat, baik di sungai maupun di pekarangan rumah. Gita percaya angkutan sampah akan mengelola transportasi sampah dengan baik. Selain rajin memilah sampah, warga pun kini rajin membuat aksesoris rumah dari sampah-sampah yang masih dapat didaur ulang, seperti plastik kemasan makanan, sedotan, dll. Bahkan ada warga yang berwirausaha aksesoris dan pernaik-pernik dari sampah daur ulang. “Terbukti, msyarakat kini menjadi lebih hidup sehat dan produktif.” Pikir Gita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar